Thursday, February 06, 2014

Kita!

Mungkin kata "kita" tak semestinya ada.
Karena memang tak harus tercipta
Aku
Kamu
Kita
Semua omong kosong itu

Dan aku akan berhenti jatuh cinta!



pic from here

Tentang rindu yang bodoh

Sepotong rindu diam diam kuselipkan sore tadi . Meski sesak sudah hati. Namun tetap kucari celah tuk bisa menitipkannya pada senja yang tenggelam oleh gedung gedung tinggi.
Pada matahari yang semakin lama semakin jarang kujumpai.
Dan kau masih tak bergeming disana
Tak peduli seberapa perih luka yang menganga ini
Atau kah aku yang terlalu banyak bermimpi?
mungkin sebaiknya kusudahi saja semua 

 Image from here

Sunday, February 02, 2014

Tentang kepahitan



Pagi ini bahkan secangkir kopi hitam tanpa gula pun terasa tak ada apa apanya
Dibandingkan dengan kenyataan yg kudapati
Pertemuan
Kedekatan
Perpisahan
Tangisan yang pecah

Dan yang lebih pahit dari itu semua adalah:
Udah tanggal segini, gaji belum masuk juga!

Well..that’s life :)
Selamat hari ini!

 

PS. Heran, kenapa skrg aku lebih gampang mewek?
hmm..

Monday, January 27, 2014

Luruh

Pagi ini hujan tlah meluruhkan semua kenangan. Yang kan kularungkan ke samudera tak bertepi. Pergilah. Tlah kurelakan semua. Meski sakit tak terperi kan kutanggung. Pergilah. Karena sesungguhnya aku pun tak pernah memintamu datang...

Thursday, January 23, 2014

Positioning



Kadang menyedihkan memang 
saat tahu bahwa  ternyata kita bukan apa-apa atau bukan siapa siapa dalam hidup seseorang.
Tapi bukankah lebih baik merendahkan harapan sejak awal agar kita tak kecewa nantinya.


Dan jangan lupa : bacalah setiap isyarat yang melintas!





pic from here

Monday, September 09, 2013

Tetaplah berharap dan berusaha karna kita tak kan pernah tau apa yg menanti di depan sana

Wednesday, May 22, 2013

Memasrahkan segalanya

Tuhan...
Ku tahu noda dan dosaku teramat banyak
Namun Kau tetap mengasihi ku
Namun kali ini jangan kau tinggalkanlah aku..

Mungkin segala kepedihan ini adalah salah satu penggugur dosa dosa hamba
Tapi kumohon
Jangan timpakan aku cobaan yang takkan sanggup kuhadapi

Monday, May 13, 2013

Melihat jejak selama bertahun tahun, semakin terasa bahwa I have been so lucky! And i didnt use it neither being grateful for it. Astaghfirullaah.

Monday, February 18, 2013

Suatu Hari Bersama Lisna

Sebagai seorang teman sekaligus pemburu make up (julukan yang kudapat dari anakku) maka dengan senang hati kami pun blusukan menjelajah beberapa tempat, padahal hari sudah mulai gelap.
Dari Mulai Blok M Pasaraya hingga Plaza Semanggi kami sambangi. Lisna adalah salah satu dari banyak perempuan lainnya yang masih canggung dan sangat jarang ber make up. Ini kubuktikan dengan peralatan make up yang dimilikinya. Meski sebagian bermerek premium, namun ia hanya punya lipstick, lipgloss, bedak tabur  dan eyeshadow saja.
Namun yang menggelikan, ia ngotot ingin membeli perlengkapan make up untuk smokey eyes look. Untungnya, dia bukan tipikal brand minded. Maka untuk eyeshadow aku meracuninya dengan brand Inez seri Viena (aku juga memilikinya). Pilihan jatuh pada merek dan seri ini karena selain harganya murah, namun warnanya cukup pigmented. Cukuplah buat latihan di rumah sebelum hari H, pikirku saat itu.
Saat kami berniat mencari foundation, maka kamipun melintasi counter Max Factor. Seorang mas-mas SPG yang ramah pun menyapa kami. Saya akui Max Factor adalah salah satu brand kosmetik luar dengan harga affordable namun memiliki kualitas tidak bisa diremehkan. Ditambah dengan tipikal SPGnya yang cukup ramah dan helpful, no wonder jika brand ini kembali menanjak namanya setalah sempat menghilang beberapa saat.
Setelah berkonsultasi ini soal pilihan foundation (alas bedak). Untuk meyakinkan Lisna, si mas SPG menawarkan untuk mencoba langsung di kulit Lisna, foundation yang ia tawarkan. Tentu saja kesempatan ini tak disia-siakan oleh Lisna. Gadis batak ini pun dengan bersemangat mengiyakan tawaran tersebut. Entah percakapan apa yang terjadi diantara mereka, Lisnapun menyetujui di make over dengan tema riasan smokey eyes. Kebetulan brand ini sedang gencar mempromosikan salah satu eyeshadow andalan mereka yang berbentuk stick yang diklaim diperuntukkan bagi riasan smokey eyes.
Menurutpendapatku, warna yang mereka miliki terlalu ngeblock. Memberi kesan kurang natural dan gothic. Karena menurutku  smokey eyes yang keren itu memiliki gradasi warna dan tidak full blocking. Otherwise, akan terlihat seperti Dedy Corbuzier. * Sok Tau MODE ON *
Well, let see what’s going to be..sayangnya saya lupa memotret saat dia sudah full makeup, karena ketidaksabaran saya menunggu nya selesai dimake over. Sigh.



Friday, October 12, 2012

Aku dan Rumah Sakit


Aku punya pengakuan.

Aku benci tempat bernama rumah sakit. Ya, meski aku sering sakit-sakitan sejak kecil. Dari disentri, panas, sakit gigi, digigit anjing hingga digigit monyet.
Aku juga sangat sering menolak jika ada teman yang mengajak untuk membesuk sodara atau kerabat ataupun sahabat yang sedang dirawat di rumah sakit.

Sebenarnya aku bukan tak punya alasan untuk itu
Karena taukah kalian, bahwa sepulang dari rumah sakit baik setelah membesuk orang sakit atau cuma memeriksa darah ke laboraturium, kondisiku akan drop setelah itu. Biasanya demam, meriang, pusing. Paling ringan cuma mual-mual.

Yang paling dilematis adalah saat harus menjaga kerabat atau bahkan ibuku sendiri yang sempat bolak balik usti rawat inap di rumah sakit. Biasanya aku gak akan minum air setetespun dari kamar atau bahkan kantin rumah sakit. Kalo mau makan atau minum, aku rela jalan meski sampe 1 km hanya untuk bisa gak makan dilingkungan rumah sakit.

Nah sebluan yang lalu setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang sahabat, terlintas ide untuk membuta semacam essay photo project, yang tujuan akhirnya adalah bikin pameran trus hasil foto-fotonya dilelang dan uang yang didapat akan disumbangkan kepada anak pengidap thallasemia disini.

Aku sih seneng banget sama ide itu. Nah masalahnya, persoalan pribadiku dengan rumah sakit ini lho..Nyaris aku membatalkan jika saja dorongan dari hati tidak lebih kuat. Meningat kurang dari dua minggu aku akan angkat kaki dari kota ini da sebelumnya aku ingin berkontribusi sedikit lah.
Oleh karenanya kuterima ini sebagai tantangan.

Maka dua hari yang lalu aku pun menguatkan tekad untuk pertama kalinya mengunjungi Rumah Sakit Zainal Abidin, guna melihat kondisi anak-anak  tersebut. Perlu waktu satu jam lebih untuk menyiapkan hati dan badan. Lucky me, semua gak seburuk yang dibayangkan. Aku sanggup memotret mereka meski hanya sekitar 30 menit saja aku berada di ruangan itu. Tapi rasa mual dan rasa takut tak terlalu terasa. Hingga tiba-tiba aku pilek. Badanku agak mriang. Semua bertambah ketika aku masuk ke ruangan satunya lagi dimana disitu aku menyaksikan dua orang dewasa (juga pengidap thalllasemia) yang di"angkut" menggunakan kursi roda karena pingsan (HBnya sangat rendah), trus di sebelahnya ada kantung darah..tiba-tiba akupun diserang rasa mual dan lemas yang amat sangat. Lalu aku memutuskan keluar ruangan dan menuju ke tempat yang lebih terbuka. Setelah itu aku langsung pamit pulang..hahaha...cemen banget yaa...whatever. Tapi aku gak kapok kookk..malah lagi merencanakan kunjungan harian kesana. Mudah-mudahan ini bisa jadi terapi buatku supaya gak cemen lagi..hihihi




Wednesday, October 10, 2012

My One and Only Single Eyeshadow PAC


Bicara eyeshadow, saya baru menyadari kalo shade eyeshadow  yang saya miliki kebanyakan coklat. Termasuk produk yang akan saya review ini. Keputusan saya membeli produk ini juga sebenarnya cuma iseng sih. Pengen nyobain produk unggulannya Martha Tilaar ceritanya.
Saat mbaknya nanyain mau pilih warna apa, reflek saya nunjuk warna coklat ini, sekalian bisa buat shading pikir saya waktu itu. Dan saya hanya membeli refilnya. Yak, karena case nya jauh lebih mahal dari refilnya. Malessss…hihihi..
Setelah saya cobain, warnanya memang pigmented sekali. Teksturnya lembut. Tapi saya sih lebih sering menggunakannya untuk shading saja :)
+pigmented
+teksturnya lembut
+bagus buat shading
-mahal :IDR 36,000 (gak sama tempatnya boo..:D)
-Dijual terpisah dengan tempatnya
Repurchase? Maybe





Tuesday, September 25, 2012

Sekeping Cerita tentang Museum dan Perpustakaan Ali Hasyimi



sepi pengunjung
"Pada saat usia saya sudah senja, buku-buku, dokumen-dokumen dan benda-benda budaya yang telah bersusah payah saya kumpulkan puluhan tahun, membuat saya gelisah, mengganggu ketenangan tubuh saya, merepotkan keheningan malam sunyi saya dan membuat saya kadang-kadang tidak bisa tidur. Ingatan bagaimana nasib benda-benda itu setelah saya meninggal, akan dijualkah bagai barang loak atau akan dikilokan untuk menjadi pembungkus barang-barang dagangan..? "

Demikian pidato yang diucapkan Ali Hasjmy ketika Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy diresmikan pada 15 Januari 1991 silam. Peresmian yayasan itu juga sekaligus menandai berdirinya bangunan Perpustakaan dan Museum di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di Jalan Jenderal Sudirman, Banda Aceh.

Mantan gubernur Aceh ( 1957 - 1964) yang juga dikenal sebagai seorang politikus, ulama, sastrawan, jurnalis dan pengarang dan penyair angkatan Pujangga Baru ini menyimpan sekitar 1.500 koleksi buku di perpustkaan tersebut.  Mulai dari naskah kuno (manuscript) yang berusia ratusan tahun sampai buku-buku yang terbit di era millenium. Ribuan buku yang berjajar di rak-rak itu ditulis dengan tulisan arab gundul, arab jawi, dan latin. Beragam bahasa juga dapat ditemukan di sejumlah buku-buku itu, dari buku-buku berbahasa Aceh, Melayu, Indonesia, Arab, Inggris, Belanda dan bahasa lainnya. Inilah perpustakaan dan museum pribadi pertama di Aceh yang kemudian diwakafkan kepada masyarakat Aceh.

Beberapa lembaga seperti University Tokyo pernah mengirimkan mahasiswanya untuk membuat katalog pustaka. Selain itu ada juga  tim yang terdiri dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, PKPM Banda Aceh, dan Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS).  Katalog naskah YPAH ini telah diterbitkan pada Januari 2007 lalu oleh Tokyo University of Foreign Studies. Ada juga salah satu lembaga di Jerman yang membantu digitalisasi manuskrip lama di museum tersebut. Dari Pemerintah Daerah Aceh sendiri, tahun lalu mengucurkan Rp 100 juta untuk perawatan manuskrip lama. Selebihnya, urusan museum menjadi kewajiban dari ahli waris Ali Hasjmy yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk merawat peninggalan sang ayah.

Sayangnya, meski katalog naskah telah diterbitkan tetapi karena keterbatasan ruang buku-buku dipajang secara tak beraturan. Hal lain lagi, tidak adanya keterangan tertulis yang menyertai benda-benda kuno bersejarah yang dipamerkan. Sang kurator pun tak tahu banyak tentang isi museum.


buku dan naskah yang tergeletak begitu saja


sebagian isi perpustakaan yang sudah rusak



Salah satu manuskrip koleksi museum


Naskah, buku dan benda bersejarah yang dimiliki museum ini nyaris semuanya berasal dari hasil upaya dan kerja keras Ali Hasjmy. Setelah beliau wafat, tidak pernah ada lagi masyarakat yang menghibahkan naskah-naskah miliknya kepada museum tersebut.(Teks : Nur Raihan & Moeld)


(Sebuah tulisan dan photostory yang dibuat untuk tugas akhir GFJA, yang ternyata gak jadi kepake :) )